Oleh: Ghali | 22 Juli 2010

MAHKAMAH ILAHIYAH KUBRA (MIK) (Mahkamah Agung Akhirat)

Bebera menit lalu, saya membaca suatu catatan di salah satu group FB  yang saya ikuti (Rindu Hakim Profesional Bersih Jujur Adil) … Jadi tertarik untuk mengabadikannya dalam blog ini..  semoga bermanfaat.

MAHKAMAH ILAHIYAH KUBRA (MIK) (Mahkamah Agung Akhirat)
Share

Mahkamah Agung Akhirat
Written by H.A. ZAHRI, S.H.

MAHKAMAH ILAHIYAH KUBRA (MIK)

(Mahkamah Agung Akhirat)

Oleh: H. A. ZAHRI, SH

SK Penugasan dan Fasilitas

Kita manusia sebagai anak Adam, tanpa kecuali dan dalam profesi apapun (hakim, advokat, jaksa polisi dll) telah menyanggupkan diri untuk menerima amanah/SK dari Allah swt. Amanah mana sebelumnya telah ditolak oleh langit, bumi dan gunung-gunung. Firman Allah swt.:

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (Al Ahzab:72)

Diktum/bunyi penetapan (amanah) Allah swt kepada sekalian manusia dimaksud ada dua macam, yaitu:

1. Mewajibkan kepada manusia untuk beribadah hanya kepada Allah;
2. Mewajibkan kepada manusia untuk mengelola bumi Allah dengan sebaik-baiknya demi kemakmuran semua mahluk-Nya.

Diktum amar putusan Allah swt tersebut di atas dikutip/dipetik dari firman Allah swt, antara lain sebagai berikut:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku . ( Adz Dzariat: 56)

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.( Al Baqoroh:30)

… Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do`a hamba-Nya).”( Hud: 61)

Inti dari kedua diktum amanah tersebut, bahwa setiap manusia harus senantiasa dekat dengan Tuhannya dan menjalankan tugas pengabdiannya untuk kepentingan sesama dengan sebaik-baiknya.

Untuk melaksanakan dua diktum keputusan tersebut, Allah swt yang Maha Rahman dan Rahim telah memberikan kepada manusia berbagai fasilitas yang cukup memadai guna mensukseskan tugasnya. Fasilitas dimaksud terdiri dari:

1. Alam raya dan segala isinya. Firman Allah swt:

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Baqorah: 29)

Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. ( Al Jatsiyah: 13)

Alam raya dan segala isinya diserahkan kepada manusia untuk dikelola dengan sebaik-baiknya sehingga dapat mendatangkan kemakmuran yang sebesar-besarnya bagi umat manusia pada masa kini dan masa yang akan datang dan kelak dipertanggungjawabkan ke hadhirat-Nya.

2. Panca indra, akal dan ilmu pengetahuan Firman Allah swt:

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” (Al Baqarah: 31)

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. ( An Nahl: 78)

Dengan pancaindra dan akal, manusia menjadi mahluk yang berbudaya yang semakin hari semakin mengalami kemajuan yang spektakuler. Peradaban manusia saat ini sudah memasuki era globalisasi, postmodern atau era digital. Dengan budaya dan peradabanya seyokyanya manusia semakin mudah melaksanakan amanah dari Allah tersebut di atas.

3. Agama dan syari’at. Firman Allah swt:

Dia telah mensyari`atkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama) -Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (As Syura: 13)

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (Al Insan: 2-3)

Agama berfungsi sebagai guidence (panduan) untuk memandu manusia agar tetap berjalan di jalan yang benar sebagaimana digariskan oleh-Nya.

Persidangan di MIK (Voluntair dan Contensius)

Masa penugasan/berlakuknya SK berakhir ketika manusia “dimutasi” oleh Allah swt dari Alam Dunia ke Alam Barzah (Kubur). Alam Barzah merupakan alam penantian, masa manusia menunggu panggilan untuk menghadap Mahkamah Ilahiyah Kubra setelah hari Kiamat. Setelah Kiamat manusia dibangkitkan dari kubur untuk menghadapi sidang oleh Hakim Yang Maha Adil (Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?).

Di hari dibukanya persidangan, manusia berbondong-bondong mengajukan permohonan (beracara dengan voluntair) untuk masuk surga. Lalu masing-masing manusia diproses dalam persidangan. Untuk dapat dikabulkan permohonanya terlebih dahulu harus diperiksa alat-alat bukti, apakah selama hidup di dunia telah melaksanakan amanah dengan benar sesuai buku petunjuk/ panduan dari Allah dan Rasul-Nya atau sebaliknya?. Adapun bukti-bukti yang diajukan dalam persidangan di mahkamah tersebut adalah:

1. Anggota badan masing-masing pemohon (manusia). Firman Allah swt:

pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.( An Nur: 24)

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (Yasin: 65)

2. Bumi Allah dimana manusia dahulunya beraktifitas. Firman Allah swt:

“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya”. (Al Zalzalah 4). Ayat tersebut diperjelas hadits Nabi sebagai berikut:

Dari Abi Hurairah ra. ia berkata: Ketika Rasulullah saw membaca ayat ini (Pada hari itu bumi menceritakan beritanya), beliau bersabda: “Tahukah kalian apa yang diceritakan oleh bumi?” Para shahabat menjawab:” Allah dan Rasulnya lebih tahu. Kemudian beliau bersabda: “Bumi menyampaikan kesaksian, bahwa tiap-tiap manusia, laki-laki atau perempuan melakukan suatu aktifitas di atas punggungnya. Pada suatu hari manusia berbuat demikian dan demikian. Inilah kesaksian yang disampaikan bumi”. Abu Isa mengatakan hadits ini hasan shaheh. (Sunan Tirmidzi:12/239, Musnad Ahmad:19/133)

Dua saksi tersebut di atas menyampaikan kesaksian sesuai dengan apa yang dilihat, didengar dan dialami sendiri sehingga kesaksianya sangat akurat, sangat mustahil memberikan keterangan palsu. Sebenarnya dengan keterangan dua saksi tersebut sudah cukup mengungkap fakta kejadian yang sebenarnya, namun demikian, di Mahkamah Ilahiyah nanti juga disampaikan alat bukti tertulis berupa akta autentik, yaitu “buku catatan” dari Malaikat Raqib dan Atid.

3. Alat bukti tertulis (akta autentik). Firman Allah swt:

Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.”( Al Israk: 13-14)

Dalam proses peradilan di Mahkamah Ilahiyah Kubro juga ada syafa’at (advokasi atau pembelaan), sebagaimana di jelaskan dalam firman Allah swt:

Mereka tidak berhak mendapat syafa`at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah. (Maryam: 87)

Pada hari itu tidak berguna syafa`at, kecuali (syafa`at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. (Thaha: 109)

Para ahli tafsir memberikan penjelasan tentang syafaat terhadap kedua ayat tersebut di atas dan ayat-ayat lainya, antara lain:

Pada proses peradilan tersebut, orang mukmin yang satu dengan lainya saling memberikan bantuan, namun syafaat itu tergantung amal shaleh dan ketaatan orang yang diberi syafaat/pertolongan. Riwayat yang lain, dari Auf bin Malik bahwa yang dapat memberi syafaat adalah Rasulullah, sebagaimana sabdanya: “Bahwa syafaatku untuk umatku yang telah meninggal dan ketika hidup tidak menyekutukan Allah swt dengan sesuatu apapun”. (Tafsir Thabari 18/256)

Pendapat lain, bahwa syafaat yang berguna adalah syafaat orang yang mendapat izin dari Allah, dan dalam memberi syafaat perkataanya diridhai oleh-Nya. Menurut Ibnu Abbas perkataan yang diridhai-Nya “ Tida Tuhan selain Allah”.(Tafsir Qurtubi 11/247)

Setelah mahkamah memeriksa permohonan pemohon (manusia), lalu mahkamah menjatuhakn vonis/putusan, yang isinya ada dua kemungkinan: Bila pemohon (manusia) terbukti selama hidupnya melaksanakan amanah dengan benar, dalam pengertian beriman dan beramal shaleh maka permohonannya untuk masuk surga dikabulkan.

Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. ( Al Baqarah: 82)

Bila terbukti sebaliknya, selama di dunia pemohon (manusia) tidak menunaikan amanah dengan benar, ingkar dan mendustakan ayat-ayat Allah, maka permohonanya masuk surga ditolak dan dia dilempar ke neraka.

Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al Baqorah: 39)

Disamping perkara volunter sebagaimana dijelaskan tersebut di atas, di Mahkamah Ilahiyah Kubro kelak juga ada perkara contensius (gugatan), dimana ada orang yang digugat orang lain karena perbuatanya selama didunia. Dijelaskan dalam hadits berikut:

Dari Abi Hurairah, Rasulullah saw bersabda:” Tahukah kalian orang yang bangkrut ?” Para shahabat menjawab: “ Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak punya dirham dan tidak punya harta lagi”. Sabda Rasul: “ Orang yang bangkrut dari umatku pada hari kiamat adalah orang yang datang dengan membawa pahala shalat, puasa, zakat, tetapi ketika di dunia mencaci/menyakiti perasaan saudaranya, menuduh orang lain berbuat zina, memakan harta orang lain, memukul orang lain, maka orang yang telah didholimi tersebut menuntut/menggugat, lalu diputuskan, bahwa kebaikan orang tersebut/tergugat diberikan kepada para penggugat, bila tuntutan para penggugat belum terpenuhi maka dosa para penggugat diberikan kepada tergugat. Lalu tergugat di lempar ke dalam neraka. (Musnad Ahmad 2/334)

Meskipun selama di dunia seseorang memiliki kesalihan individual (ritual), dalam pengertian hubunganya dengan Allah atau ibadah ritualnya bagus, tapi jika hubunganya dengan sesama manusia mengalami disharmoni atau sering berbuat dholim dan menyakiti atau merugikan banyak orang , maka di Akhirat akan menjadi orang yang bangkrut dan tidak punya tiket ke Surga.

Wal hasil, Mahkamah Ilahiyah Kubro adalah pengadilan di akhirat kelak, yang sudah barang tentu berbeda dengan pengadilan dunia. Pengadilan akhirat adalah pengadilan yang sebenar-benarnya, dalam pengertian proses peradilanya berjalan dengan jujur, adil, benar dan transparan. Tidak ada kecurangan, kedloliman, suap-menyuap, korupsi, kolusi dan segala macam penyimpangan yang sering disebut ‘mafia peradilan’, sehingga putusan yang dihasilkan adalah putusan yang seadil-adilnya karena berpijak pada fakta kejadian dan fakta hukum yang sebenar-benarnya.

Demikianlah kurang lebih gambaran singkat tentang proses peradilan di Mahkamah Ilahiyah Kubro. Selagi kita masih hidup di dunia, marilah kita menjalankan amanah sesuai dengan tugas kita masing-masing dengan sebaik-baiknya. Tugas kita sebagai penegak hukum dan kebenaran, lebih-lebih hakim, dengan jargon “sebagai wakil Tuhan”, mari kita tegakkan hukum dan kebenaran sebagaimana mestinya, tanpa pandang bulu. Kita perluas pengetahuan dan wawasan hukum kita, kita tingkatkan skill dalam law in action kita, kita bersihkan hati kita dari sifat tamak, curang, dengki dsb. sehingga dapat menghasilkan output dan outcome (keputusan) yang membawa maslahah bagi hidup dan kehidupan umat manusia pada umumnya dan pencari keadilan pada khususnya. Dengan demikian, insya Allah kita akan melewati proses hisab/peradilan dihadapan Yang Maha Adil dengan sederhana, cepat dan tanpa biaya (prodeo) dengan vonis yang menggembirakan.

maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. ( Al Insyiqoq: 8-9).

Wallahu ‘alam bi shawab.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: