Oleh: Ghali | 24 Agustus 2010

MALIN KUNDANG BERHARAP SURGA

Tulisan ini saya Share dari catatan seorang rekan di Padang via Facebook… semoga bermanfaat:

=================================================

Tersebutlah seorang ibu bernama Shalehah yang hidup di sebuah ranah bernama Alam Minangkabau. Sang Ibu memiliki 2 orang anak. Dia sangat menyayangi kedua anaknya, tidak ada satu pun diantara mereka yang bersusukan susu binatang, semuanya dia susukan sendiri selama 2 tahun sesuai tuntunan agama dalam menyapihkan anak.

Pernah suatu kali air susunya tidak mau menetes entah karena apa, bukan susu binatang yang terpikir oleh Ibu Shalehah sebagai gantinya melainkan air susu sesama manusia juga. Sudah kesana kemari dia mencari seorang ibu sesusuan yang mau dibayar menyusukan anaknya tetapi dia tidak berhasil menemukannya. Tidak seorang ibu miskin pun yang mau menyusukan anaknya walau dia mau membayar mahal untuk itu. Alasannya karena mereka belum terbiasa dan takut dihina ibu-ibu kaya. Beberapa kolega Ibu Shalehah yang memang kaya mengusulkan supaya Ibu Shalehah membeli saja susu binatang yang sudah dijadikan bubuk sebagai gantinya sebagaimana yang telah mereka lakukan kepada anak-anak mereka.

Dalam kesedihan yang teramat dalam membayangkan anaknya harus meminum susu binatang dan bukan susu sesama manusia, Sang Ibu dapat semacam mukjizat dengan menetesnya lagi air susunya tanpa dia tahu apa sebabnya. Hanya sekali itu saja Ibu Shalehah mengalami hambatan dalam menyusukan anak-anaknya.

Menjadi unik dan menarik ketika ternyata Ibu Shalehah tidak pernah menamai anak-anaknya sampai mereka jadi manusia dewasa. Begitu lahir, anaknya hanya diberi inisial abjad. Anak pertama berinisial B dan anak kedua C. Kedua anaknya berkelamin laki-laki. Keduanya dibekali Ibu Shalehah dengan pedoman kehidupan berketuhanan, diberi pemahaman mana yang boleh dan mana yang terlarang, mana yang namanya dosa dan mana pula yang bernama pahala.

Dalam perkembangannya, anak berinisial B punya tabiat sangat khas. Anak ini relatif baik dan suka dengan kebaikan. Dia suka menolong orang-orang yang sedang kesusahan atau sedang kelaparan. Dia seorang dermawan dan penuh perhatian kepada sesama manusia. Hanya saja, dia tidak pernah mau mengakui bahwa orang tua yang melahirkan dan yang selama ini menyayangi dan memeliharanya adalah Ibu Shalehah. Dia selalu mengakui kepada orang-orang lain bahwa Ibunya bernama Maryam, seorang ibu muda kaya raya dan berpenampilan lebih gaya. Yang paling membuat Ibu Shalehah sangat berduka adalah ketika mengetahui Si B pernah mencoba mengajak adiknya untuk juga menolak keibuan Ibu Shalehah dan beralih mengibukan Ibu Maryam. Setelah dewasa, sesuai perangainya, Ibu Shalehah menamai anak ini Malin Kundang.

Syukurnya anak kedua yang berinisial C tidak seperti kakaknya walaupun sifat-siaft baik Malin Kundang nyaris disalinnya tanpa sisa. Tampilan fisiknya pun tidak tampak ada yang berbeda dengan Malin Kundang sehingga seringkali orang menyangka mereka anak kembar. Sangat kontras dengan Malin Kundang, anak kedua ini justru sangat menyayangi Ibu Shalehah, sangat bangga dengan Ibunya sehingga kemana saja dia pergi, selalu dia menyebut nama Ibu Shalehah sebagai ibu kandungnya yang telah melahirkan, menyusui dan membesarkannya. Dia juga sangat patuh kepada suruhan ibunya. Bersunatpun dijalaninya di usia masih belia, berbeda dengan Malin Kundang yang sampai dewasa pun belum bersunat. Dia tidak hanya sekedar berbuat baik dan hanya mengejar kesenangan duniawi semata seperti kebiasaan Malin Kundang, namun juga menghabiskan waktunya untuk beribadah di siang dan malam hari. Dia pun tidak pernah minum yang berbahan alkohol karena dilarang Ibu Shalehah, sedangkan Malin Kundang kadang-kadang melanggar larangan Ibunya. Setelah dewasa, sesuai perangainya, anak ini diberi nama Malin Bana.

Ibu Shalehah pernah berjanji bahwa pada suatu saat kelak, anak-anaknya akan dimasakkannya menu spesial yang belum pernah mereka cicipi sepanjang usia mereka. Disamping itu, Ibu Shalehah juga menyiapkan hadiah-hadiah yang tidak kalah menarik. Semuanya itu kemudian ditaruhnya dalam sebuah kamar yang dinamainya Surga Keluarga. Kepada anak-anaknya diingatkan bahwa yang bisa memasuki Surga Keluarga adalah yang mampu mengoleksi banyak perbuatan baik disamping syarat lainnya yang juga harus dipenuhi. Syarat tersebut akan bisa terlihat di pintu kamar Surga Keluarga. Mendengar penjelasan tersebut, baik Malin Kundang maupun Malin Bana tampak sangat bersemangat.

Hari yang dinanti pun tiba. Malin Kundang dan Malin Bana sudah tidak sabar ingin menikmati segala kenikmatan yang telah disediakan Ibunda mereka. Mereka berebut menghambur ke arah kamar Surga Keluarga. Namun, Malin Kundang tertegun ketika membaca syarat yang tertulis di pintu kamar, “HANYA UNTUK ANAK YANG MENGAKUI IBUNDA SHALEHAH SEBAGAI IBUNYA”. Serta merta Malin Kundang mencak-mencak dan berteriak-teriak memprotes.

Ibunda Shalehah hanya bisa mengurut dada, tercenung melihat tingkah anaknya Si Malin Kundang. Dalam hatinya, Ibu Shalehah berujar, “Wahai Malin Kundang anakku, betapa engkau sudah tidak tahu diri masih ingin menikmati Surga Keluarga yang kusediakan tanpa mau mengakui aku sebagai Ibumu, jangan-jangan Surga Akhirat pun kamu inginkan tanpa mau mengakui Allah SWT sebagai Tuhanmu dan tanpa mematuhi suruhan dan laranganNya untukmu.”

Cerita ini terinspirasi dari foto di bawah ini:


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: